Minggu, 06 September 2015

Cerita Dibalik Raskin



Oleh: Dino Eka Aprianto,  Fatimatuz Zahro, Fara Dilla A, Mislan Agus S, Nina Purwanti, Ridwan Okky H, Usman Prabowo, Mufidatul K (SMA Negeri 1 Pamotan).



Dari hasil wawancara dan beberapa pihak kemaren di Desa Gambiran,Kec. Pamotan syarat untuk  mendapatakan raskin adalah masyarakata yang sedang terdaftar di kantor desa tersebut. Karakateristik orang yang mendapatakan raskin daiantaranya keluaraga tersebut  tidak memiliki ladang ataupun sawah  jikata tidak memiliki sawah makakealuaraga tersebut tidak memiliki berassendiri untuk di hasilkan. Untuk penerimaan raskin sendiri sudah lumayan tepat sasaran dan cukup mearata karena keluarga atau orang orang yang mendapatkan raskin data-datanya di pilah oleh pihak desa tersebut kemudian di setorkan ke pusat  untuk mendapatkan persetujua. Di dalam satu desa tersebut lumayan banyak yang mendapatkan raskin. Dengan keaadaan masyarakatnya yang perekonomiannya yang belum tercukupi .

Kualitas  / jumlah dari raskin yang di daptkan per orang adalah sekitar 15kg yang biasa di ambil dengan mengeluarkan biaya Rp. 24.000,00. Raskin datang terhitung setiap 1 bulan sekali. Untuk kualitas dari raskin itu sendiri berasnya kurang berkualitas, beras tersebut berwarna agak kekuning-kuningan terdapat sisa penggilingan yang belum bersih, bahkan dijumpai beberapa raskin yang berkutu. Tentu saja jika di abndingkan dengan beras yang ada di toko perbedaanyasangat menonjol yaitu berasnya berwarna putih , bersih , dan tidak berkutu. Denganjumlah penerimaan raskin yang hanya sedemikian tentu saja raskin tetap  tidak bisa di gadang oleh masayarakat sebagai penyambung perekonomian.

Dari kualitas raskin itu sendiri yang berbau apek dan berkutu  dan kurang baik. Masyarakat yang mendapatakan raskin , beras tersebut akan di jual dan di tukar tamabah dengan beras yang lain yang lebih layak untuk  di konsumsi. Adapula beras tersebut untuk di jadikan sebagai pakan ayam. Dan untuk masyarakat yang sekiranya beras tersebut layak di konsumsi. Mereka  mencampurkan beraslain yang lebih berkualitas baik. Sehingga rasa yang apek dari raskin tersebut bisa sedikit teriritasi dengan beras yang bekualitas baik. Dalam penjualan raskin masyarakat mendapatakan sedikit keuntungan yaitu yang pertama beras yang semula berkualaitas buruk bisa di tukar dengan beras berkualitas baik walaupun yang di dapat lebih sedikit dari raskin di jual orang tersebut akan mendapatakan keuntungan karena harganya akan sedikiit lebih mahal di abndingkan dengan uang yang di bayar saat pengambilan raskin. Kendala dalam pengiriman raskin ke desa yaitu raskin yang kurang tepat waktu, raskin sering seklai datang terlambat. Adanya program pemerintah seperti raskin ini lumayan bisa membantu menyambung perekonomian masyarakat walaupun jumlah nya cuman sedikit,  tapi pemberian raskin belum bisa mengatasi kemiskinan karena belum bisa seutuhnya dalam membantu perekonomian masyarakatnya dalam hal kualitas dan kuantitas. Harapan dari masyarakat adalah pemerintah lebih meningkatkan dan memperhatikan lagi program raskin tersebut. Dari hal pengiriman yang sering tidak tepat waktu di distribusikan  ke desa-desa Hingga kualitas raskin yang kurang baik. Seharusnya pemerintah memperbaiki kualitas raskin yang diberikan kepada masyarakat dan kalau bisa pemerintah harus ber upaya untuk meningkatkan jumlah raskin yang akan di berikan kepada masayarakat.


Gbr. Proses Wawancara dengan Narasumber

Gbr. Beras raskin vs Beras petani

Gbr. Proses mengerjakan hasil wawacara



Catatan:  Laporan lengkap kunjungan lapangan, dapat didownload pada link berikut ini. 
atau 


Kualitas Raskin Mulai Menurun


Oleh: Agus Sutrisno, Ahmad Nurul K, Dian Fitriyani, Mei Hesti N.Z.D, Munawaroh, Siti Nur Faindah (SMA Negeri 1 Pamotan, Tahun Pelajaran 2014/2015) 

Keadaan di Desa pacing Kecamatan Sedan yang menerima Raskin rata-rata berpenghasilan menengah, katrena di Desa pacing kebanyakan penduduknya bekerja di sekitar pertanian dan juga buruh tani. Bagi orang yang tidak mempunyai lading mereka bekerja menjadi vuruh tani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Penduduk di Desa pacing yang menerima Raskin kurang lebih berjumlah 200 Kepala Keluarga (KK) rata-rata penduduknya memiliki lahan pertanian yang laus, sehingga hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebanyakan lahan pertaniannya ditanami padi saat musim penghujan, jika pada musim kemarau di tanami palawija, seperti : jagung, kacang, kedelai. Dll.
Raskin merupakan subsidi pangan dalam bentuk beras yang di peruntukkan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah sebagai upaya dari pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan di Negara ini.Rumah tangga yang berhak menerima Raskin atau juga disebut rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM) program raskin, adalah rumah tangga yang terdapat dalam data yang telah tercatat di pemerintahan pusat.Sekarang ini raskin tidak hanya diberikan kepada yang berhak saja, tetapi raskin juga diberikan kepada orang yang berpenghasilan menengah atas.Daftar rumah tangga yang menjadi sasaran penerima raskin adalah semua rumah tangga yang masuk dalam basis data dari pusat yang kemudian di peringkat berdasarkan status kesetahteraannya dengan menggunakan metode indeks kesejahteraan yang objektif dan spesifik untuk setiap kabupaten/kota.
Penyaluran raskin melalui Perum Bulog bersama tim koordinasi raskin menyusun rencana penyaluran bulanan yang ditentukan dalam surat permintaan alokasi yang di butuhkan. Kemudian raskin disalurkan oleh Perum Bulog ke daerah yang ditentukan dan yang telah disepakati oleh Perum Bulog dan pemerintah kabupaten/kota.
Terakhir pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab membagikan Raskin dari daerah yang ditentukan ke daerah atau tempat penyerahan raskin kepada para RTS-PM, untuk selanjutnya di bagikan kepada RTS-PM Raskin.
Jangka waktu penerimaan Raskin biasanya satu bulan sekali, jika dalam jangka waktu satu bulan tidak dibagikan maka bulan yang akan datang akan dibagikan dua kali dalam satu bulan. Seperti halnya pada bulan Januari, Raskin jarang diberikan maka raskin dibagikan pada bulam Februari dengan pembagian dua kali dalam satu bulan. Biasanya dalam dalam kelompok tedapat 8-10 orang, jumlah kelompok tersebut disesuaikan dari banyaknya warga dari masing-masing RT. Jika dalam 1 kelompok berisi 8 orang, iuran yang diadakan persatu oaring Rp. 14.000 dan beras yang didapat dalam satu kelompok 4 karung beras yang setiap isinya berisi 15 Kg sehingga pada saat dibagikan satu orang mendapat setengah karung beras yaitu 7,5 Kg.
Syarat-syarat yang ditetapkan bagi masyarakat yang menerima raskin adalah warga yang sudah terdaftar dalam desa tersebut dan kondisi warga tersebut layak untuk menerima raskin dan yang paling penting sudah mempunyai KK (Kartu Keluarga). Tapi jika ada orang yang baru pindah kesebuah desa tidak bias langsung menerima raskin walaupun keadaan tersebut kurang mampu. Dan jika orang tersebut ingin mendapatkan raskin maka orang-orang tersebut harus mengurus syarat-syarat penerimaan raskin. Misalnya dengan mengurus KKnya dan surat perpindahan penduduk dan segera ke kepala desa untuk mendaftarkan dirinya agar tercatat sebagai warga didesa tersebut dan bisa cepat menerima raskin.
Biasanya setelah raskin dibagikan, raskin tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dijual dan kemudian ditukar kembali dengan kualitas beras yang lebih baik.Tetapi ada juga masyarakat yang menjual easkin dengan harga 1 Kg Rp. 5.500 samapi Rp. 6000, harga itu pun tergantung pada musim panen.Jika pada musim panen harga beras murah atau menurun.Ada yang dikonsumsi sendiri, jika dikonsumsi biasanya raskin dicampur dengan beras yang kualitasnya baik supaya rasanya enak. Kualitas raskin yang diterima masyarakat kebanyakan kualitas kurang bagus dengan warna berasnya agak kehitaman ada kutunya, baunya apek dan banyak debu yang dikeluarkannya pada saat karungnya dibuka, selain itu kondisi beras pada saat dibagikan tidak utuh dan jika pada saat dikonsumsi rasa pada beras tersebut tidak enak, nasinya agak kehitaman tidak seperti beras berkualitas baik pada saat sudah menjadi nasi kondisi nasinya sedikit keras dan tidak mengempal.
Secara teritis program raskin memang berpotensi sebagai program penanggulangan kemiskinan yang menyeluruh. Program ini dapat menjadi alat bagi pemerintah untuk menanggulangi kesenjangan dimasyarakat saat kondisi perekonomian sedang krisis.
Masyarakat berharap kepada pemerintah agar memperbaiki kualitas raskin menjadi lebih layak dikonsumsisupaya raskin tidak di jual dan upaya yang sudah dibentuk oleh pemerintah tidak disalahgunakan oleh masyarakat.Dan masyarakat raskin dengan teratur dan tepat waktunya.

Gbr. RASKIN yang telah dibagikan dalam kelompok
Catatan Tambahan: 
Baca selengkapnya kunjungan lapangan pada link berikut ini; 
atau link 1, dan link 2

Potret Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin

Oleh: Ahmad Aldi W, Hartolo Nugrogho, Tiara Candra N, Arli Shofi, Rini Anggraini, Vitria Ani (SMA Negeri 1 Pamotan, Tahun Pelajaran 2014 / 2015)
         
    

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmad dan hidayahnya kami mampu untuk menyusun makalah penelitian tentang kehidupan orang miskin yang bergantung pada bantuan pemerintah dan mengakibatkan banyak masyarakat yang menderita.
          Susunan makalah ini kami sesuaikan dengan pengalaman dari penerapan proses penggunaan bantuan seperti: JAMKESMAS, BLTdan BPJS yang dimiliki oleh masyarakat yang kurang mampu, selain mengandalkan bantuan dari pemerintah masyrakat banyak yang mengeluh karena kurangnya pekerjaan dan menimbulkan banyak permasalahan semacam penyakit yang datang setiap saat. Pertolongannya untuk pengobatan kurang perhatian dari puskesmas dan rumah sakit karena para dokter lebih mengutamakan masyarakat yang berada. Disini dilengkapi foto dan beberapa identitas masyarakat miskin
Melalui makalah penelitian yang kami buat,kami brharap agar pemerintah
Mau lebih memperhatikan masyarakat yang miskin,serta agar mau memperbaiki segala kekurangan yang belum terpenuhi dari masyarakat dan dapat mengambil kesimpulan dari makalah yang kami buat
          Kami menyadari bahwa makalah penelitian yang kami buat masih banyak kekurangan dan kesalahan.oleh karna itu,kritik dan saran sangat kami butuhkan demi penyempurnaan makalah ini.
            Masalah kemiskinan bisa ditinjau dari lima sudut, yaitu presentase penduduk miskin, pendidikan (khususnya angka buta huruf), kesehatan (antara lain angka kematian bayi dan anak balita kurang gizi), ketenagakerjaan, dan ekonomi (konsumsi/kapita). Namun saat ini masalah yang sangat banyak didapati diberbagai daerah adalah masalah tentang kesehatan. Karena banyak masyarakat miskin yang mendapatkan bantuan berupa Jamkesmas namun banyak masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang selayaknya. Bantuan yang diperoleh dari pemerintah kurang memenuhi kebutuhan dan juga kesenjangan dalam masyarakat. Masyarakat yang banyak mendapatkan bantuan itu didaerah pedesaan.
Peninjauan kepada beberapa keluarga:
    1.keluarga ibu AFUAH
Ttl: Rembang 8 mei 1959
Alamat: pamotan
Pekerjaan:petani
     Menurut pendapat seorang warga yang bernama ibu afuah kalo tidak semua masyarakat miskin mendapatkan kartu kesehatan justru banyak keluarga yang punya malah mendapatkan kartu kesehatan JAMKESMAS.Biasanya penyakit yang sering di derita kurang lebih dari 90% adalah kurang gisi.,.karena biasanya masyarakat miskin lebih mengutamakan kebutuhan lain dari pada kesehatanya.apabila masyarakat saat membutuhkan pengobatan di puskesmas atau di Rumah sakit yang mengunakan JAMKESMAS pelayananya tidak maxsimal dan kebanyakan diabaikan. Bahkan masyarakat yang berada dikalangan atas lebih di utamakan fasilitasnya karena mereka memiliki uang dan masyarakat yang sangat membutuhkan malah tidak
Di pedulikan. Jenis penyakit yang sering di derita oleh masyarakat miskin adalah penyakit kulit,kurang giizi
Harapan ibu sringah kepada pemerintah agar tidak membeda-bedakan masyarakat yang kaya dan yang miskin.Dan pemerintah lebih merakyat melihat kondisi masyarakat indonsia.
2.Keluarga AKHIT ABDILLAH
TTL:Rembang 7 januari 1960
Alamat: PAMOTAN
Pekerjaan:petani
   Menurut pendapat warga yang bernama Bapak AKHID banyak mayarakat yang memiliki JAMKESMAS namun tidak menggunakan pelayanan yang sesuai.Masyarakat miskin sulit untuk mendapatkan akses keadilan dari pemerintah meski telah mendapatkan kartu kesehatan.
      Sejauh masyarakat miskin alami dalam sehari-harinya sulit mendapatkan keadilan dari pihak kesehatan dan keamanan dari daerah setempat.kebersihan dari daerah kami yang sangat memprihatinkan dan membuat berbagai macam penyakit menyerang bahkan lebih banyak penyakit yang sulit untuk disembuhkan.
    Krisis ekonomi yang berkelanjutan meningkatkan angka kemiskinan dengan adanya bantuan dari pemerintah dan kesadaran masyarakat  yang memiliki harta mau ikut membantu masyarakat miskin.
   Harapan dari bapak suparno supaya fasilitan kesehatan yang akan mendatang lebih terjamin.
3.Kepada keluarga ABDULLAH AFIF
TTL: Rembang 4 juli 1980
Alamat: PAMOTAN
   Menurut masyarkat yang bernama AFIF kesenjangan sosial yang terjadi dalam masyarakat dikarenakan sulitnya mengumpulkan uang dan lowongan pekerjaan yang sangat sedikit. Setiap masyarakat yang mendapatkan kartu sehat kurang lebihnya dari kalangan pedesaan bahkan masyarakat perkotaan yang mendapatkan kartu sehat beberapa persen.
    Kebanyakan masyarakat miskin menempati tempat yang kumuh dan juga tidak mempedulikan kebutuhan akan kebutuhan kebersihan lingkungan, yang diinginkan adalah hanya bertempat tinggal di daerah yang nyaman baginya.
  Berbagai penyakit selalu datang secara spontan dan mengakibatkan berbagai macam penyakit datang ada beberapa penyakit yang menyerang dan sulit untuk disembuhkan dan berujung pada kematian.
  Harapan kami masyarakat miskin agar pemerintah lebih memperhatikan masyarakat yang miskin dalam pelayan kesehatan.dan kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. 


Gbr 1. Proses Wawancara kepada salah satu penerima program JAMKESMAS

Gbr 2. Proses Wawancara kepada salah satu penerima program JAMKESMAS

Pasien Jamkesmas

Oleh: Aina Us Syafaah, Erika Dwi W, Ahlisis Salamah, Ela Nurfika, Alfiatun Ni’mah, Dheo Laksono, Ahmad Sabiq (SMA Negeri 1 Pamotan,Tahun Ajaran 2014/2015) 
     Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat,inayah,dan taufikya serta hidayahnya.sehingga kami dapat menyelesaikan tugas lapangan penelitian akhir semester sosiologi dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana ini.semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk,maupun pedoman bagi para pembaca sekalian.
      Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan bagi para   pembaca,sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya bisa lebih baik lagi.  Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman kami yang masih kurang. Oleh karena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini..
Kesehatan merupakan kebutuhan primer dalam hidup manusia. Manusia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kesehatan,salah satunya dengan mendaftar dan mendapatkan kartu sehat dari pemerintah untuk menjamin kesehatannya kelak bila terkena musibah yang ada kaitannya  dengan kesehatan dan tidak memiliki biaya,maka bisa menggunakan kartu sehat.
            Kartu sehat merupakan alternative yang paling  tepat untuk orang miskin agar kesahatannya terjamin walaupun tidak mempuyai biaya.
      Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan sesuai dilapangan maka kami menggunakan metode wawancara sebelumnya kami telah mensurvasi beberapa orang yang kami anggap tidak mampu dan memiliki kartu sehat kemudian kami memilih 3 orang yang akan kami wawancarai untuk mengetahui beberapa hal yang ada kaitannya dengan kartu sehat dan mengambil kesimpulan. Di antara mereka kebanyakan tidak lulussekolah dan sudah tua sehingga tidak dapat komunikasi menggunakan bahasa Indonesia karena permasalahan tersebut kami wawancara dengan cara santai dan menggunakan bahasa sehari-hari seolah-olah kita sedang mengobrol agar mereka tidak tegang. Setelah melakukan wawancara sebagai bentuk rasa terima kasih karena mereka sudah berkenan untuk membantu terlaksananya tugas penelitian kami anggota kelompok mengadakan iuran untuk diberika mereka yang telah kami wawancara selain itu juga sebagai bentuk rasa perihatin dan ingin membantu karena mereka tergolong berekonomi rendah.
       Kartu sehat adalah kartu yang digunakan untuk membantu pembiayaan dan pinjaman pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.Dengan adanya kartu ini masyarakat tidak hanya sebatas menerima pelayanan kesehatan tingkat pertama yang biasanya dilayani puskesmasatau fasilitas pelayanan dasar milik swasta yang bekerjasama dengan BPJS kesehatan,tetapi juga dapat diberikan pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan diberbagai rumah sakit sesuai dengan sistem dan jenjang rujukannya.Jaminan kesehatan yang diselenggarakan secara nasional ini juga dimaksudkan untuk mewujudkan mutu dan biaya dalam pelayanan kesehatan.dengan demikian adanya kartu sehat masyarakat miskin bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dengan layak dan baik.
     Berdasarkan  penelitian dan wawancara yang telah kami lakukan terhadap tiga orang yang tidak mampu dan memiliki kartu sehat dapat kami uraikan  bahwa dengan penelitian ini dapat kami ketahui :
Setiap orang meskipun orang miskin sekalipun bisa mendapatkan layanan kesehatan dari pihak puskismas/rumah sakit dengan baik. Serta kartu kesehatan yang telah diberikan pemerintah kepada orang miskin akan berguna bagi mereka, dan dapat digunakan kapan pun mereka membutuhkan. Layanan dari rumah sakit kepada pasien menggunakan kartu sehat dan yang tidak menggunakannya mendapatkan kesamaan dan tidak dibeda-bedakan dari pihak pelayanan kesehatan, mereka mendapatkan m,akanan yang bergizi dari pihak pelayanan kesehatan.
         Penyakit yang sering di alami oleh orang miskin yaitu penyakit perut,pusing kepala,karena makanan yang dikomsumsi kurang bergizi. Penyakit yang paling parah yang dialami orang kurang mampu mendapatkan kartu sehat yaitu antara lain sakit kaki (encok,pegel linu,asam urat,dll),dan sakit tidak bisa atau susah kencing.mereka berobat dipuskesmas dan rumah sakit terdekat. Apabila mereka mempuyai penyakit yang parah akan dirujuk kerumah sakit yang lebih besar dan mempuyai alat yang lebih canggih lagi.. mereka mendapatkan layanan kesehatan dengan kartu sehat dengan baik dan ramah. Kebanyakan mereka dari pedesaan tidak ditolak oleh pihak kesehatan. Dari segi pelayanan kesahatan orang sakit dari pemerintah sudah baik dan sudah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah,tetapi untuk biaya hidup  keluarga yang mengurus dirumah sakit/puskesmas menggunakan biaya pribadi sampai ada yang menjual kambing miliknya.sehingga mereka tidak sepenuhnya bebas tidak mengeluarkan biaya,karena mereka masih membutuhkan biaya untuk memenuhi orang yang mengurus dirumah sakit/puskesmas.

Biodata Pemilik Kartu Sehat
Orang Kesatu

 
Nama :khasanah
Tanggal Lahir:07 november 1935
Alamat:gembleng mulyo kecamatan pancur
Pekerjaan: ibu rumah tangga
Penghasilan:diberi uang oleh anak tunggalnya.
Orang Kedua
Nama:Hayati
Umur:80
Alamat: Wuwur,Kecamatan Pancur
Pekerjaan:Ibu Rumah Tangga

Orang Ketiga
Nama: Kasrinah
Tanggal Lahir: 05 September 1950
Alamat:Punggurhajo,Pancur
Pekerjaan:Buruh Batik
Penghasilan:300/Bulan

Gbr 1. Lampiran proses wawancara

Gbr 2. Lampiran usai proses wawancara

Gbr 2. Lampiran proses wawancara

Gbr 3. Lampiran usai proses wawancara

hhttp://www.4shared.com/file/92WM7nhiba/Pasien_Jamkesmas.html
http://www.4shared.com/file/92WM7nhiba/Pasien_Jamkesmas.html

Senin, 12 Januari 2015

Cinta Menanam Sayuran

Menanam merupakan tindakan mulia. Karena didalam tindakan menanam, terdapat perilaku menjaga dan melestarikan kehidupan. Menanam merupakan inti dari sebuah kehidupan. Sebaliknya, ketidakmauan dalam menanam sama halnya dengan mempercepat kematian. Untuk itu maka gerakan cinta menanam adalah sebuah ekspresi cinta kita terhadap kehidupan.

Tanaman merupakan hal penting yang harus ada dalam proses menanam. Proses menanam sedikit banyak akan mempengaruhi keberadaan tanaman. Semakin sering kita menanam, maka semakin banyak tanaman yang hidup di alam.

Keberadaan tanaman pada awalnya berfungsi untuk keseimbangan alam. Dengan adanya tanaman, tercipta keharmonian. Selanjutnya keberlimpahan tanaman kemudian dimanfaatkan mahluk hidup yang ada di alam.

Apa saja yang harus ditanam, merupakan hal penting dalam rangka mengidentifikasi kebutuhan apa saja yang harus tercukupi agar manusia tetap lestari di alam. Tanaman telah berfungsi menciptakan keindahan, keteduhan, penghijauan, kesejukan, keoksigenan, dan keamanan. Tanaman telah menghasilkan nilai tukar (ekonomi) yang dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan manusia di alam. Fungsi alami pada tanaman telah tersediakan dan disediakan oleh alam. Adapun memfungsikan ekonomi pada tanaman akan mempengaruhi dari keberadaan dari fungsi umum pada tanaman. Karena fungsi ekonomi tanaman cenderung mempengaruhi eksistensi fungsi umum tanaman, maka tindakan bijak adalah menanam tanaman yang memiliki fungsi ekonomi dengan perencanaan yang matang.

Sayuran merupakan salah satu dari beragam jenis tanaman yang memiliki fungsi khusus. Di dalam sayuran biasanya terdapat kandungan gizi dan antioksidan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Karena sangat pentingnya fungsi sayuran dalam tubuh manusia, maka manusia setiap hari memerlukan bahan sayuran untuk makan dengan beragam menu dan sajiannya.

Sayuran tidak lagi mengenal batas desa dan kota. Sayuran juga tidak mengenal ras, agama, dan jenis pekerjaan manusia. Selagi ada, sayuran akan dibeli oleh manusia dimanapun berada. Namun sayangnya, budaya menanam sayuran hanya dimiliki oleh kelompok kecil saja. Mereka adalah kelompok yang cenderung berorientasi pada nilai tukar saja, bukan fungsi dari sayuran dalam kehidupan manusia. Keadaan demikian tentu akan menjadi kekhawatiran akan terancamnya kemandirian sayuran sosial. Ketidaksiapan kita dalam kemandirian dan ketercukupan sayuran, masyarakat kita akan terancam dengan menjadi masyakat konsumtif yang tergantung dengan produksi sayuran masyakat luar. Padahal disisi lain potensi alam sekitar kita sangat berlimpah dalam membudidayakan sayuran.

Untuk itu perlu dilakukan gerakan cinta menanam sayuran. Gerakan cinta merupakan metode untuk mengenalkan kembali bahwa masyarakat kita sebenarnya telah mandiri dalam keberlimbahan komoditi sayuran. Bagaimana cara menggerakkannya merupakan kewajiban kita semua, bukan segelintir kelompok kecil saja.

Para tokoh masyarakat, ahli tanaman, peneliti sayuran, penyuluh pertanian, pendidik, serta relawan, merupakan elemen-elemen penting yang harus tampil sebagai kelompok acuan dalam menggerakkan cinta menanam sayuran. Mereka sudah saatnya mendekati anak-anak untuk dikenalkan bagaimana menyediakan media tanam, mengenalkan jenis bibit sayuran, cara menanam, cara merawat, mengenalkan kandungan yang ada dalam sayuran, cara memanen, hingga cara memasak dan menyajikan menu sayuran.

Dengan gerakan cinta menanam sayuran ini, diharapkan akan tercipta kecintaan kita terhadap kehidupan yang hormani dan menawan.

Rabu, 17 Desember 2014

Katalog Visual Rumah Baca

Berikut ini daftar buku koleksi rumah baca pamotan dalam bentuk foto

Koleksi Buku Rumah Baca Pamotan tahun 2014

Senin, 15 Desember 2014

Misi Kemanusian dalam Keroncong Lasem yang Terlupakan

Hingga sekarang Lasem sangat menarik menjadi obrolan semua kalangan. Bagaimana tidak, karena Lasem telah menjadi ikon kota multikultural yang pluralis dan toleran. Akulturasi damai agama-agama besar mulai dari Hindu, Budha, Kapitayan, hingga Islam pun terjadi disini. Tak hanya itu, Lasem juga menjadi simbol tata kota multikultural dengan beragam etnis mulai Jawa, Cina, dan Arab dengan hidup damai berdampingan.

Setiap mendengar kata Lasem, dikepala kita langsung terbayang dengan keindahan batik tulisnya, keakraban masyarakatnya, citarasa kopinya, keasrian pantainya, kemegahan arsitektur kota tuanya, dan beragam situs pusaka yang bertebaran disegala sudut kota. Namun ada satu identitas Lasem yang belum banyak diketahui orang, yaitu keberadaan grup musik keroncong lasemnya.

Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, keroncong lasem telah eksis sejak era 70-an. Para pengikut keroncong kala itu tidak hanya mereka yang duduk dalam kelas sosial biasa, kaum terdidik dan hingga keturunan bangsawan lasem telah jatuh cinta pada alunan musik ini.

Jenis musik klasik berirama halus ini telah menyatu dengan ekspresi seni masyarakat kala itu. Setiap ada upacara rites hidup, mulai acara kelahiran, sunatan, mantenan, hingga pindah rumah, panggung keroncong lasem selalu dinantikan. Apalagi ketika ada perayaan hari-hari besar, keroncong lasem selalu tampil dengan penonton yang selalu merindukan gesekan biola yang sello yang genit dan menawan. Mereka yang hadir merasa nyaman dan tenang ketika pentas keroncong digelar. Saat itu, keroncong lasem benar-benar menjadi pemantik dalam mendorong tatalaku sosial yang di idam-idamkan.

Keroncong lasem telah menjadi media kerukunan sosial. Dengan bermodal ketajaman filling para pemain, seakan keroncong telah menyihir para penonton dengan menjauhkan pikiran jahat yang mengancam hak hidup dan misi kemanusiaan. Melalui keroncong ini pula, banyak seniman dan pegiat sosial dilahirkan. Saat itu pula, keroncong lasem bak lembaga pendidikan sosial yang arif dan menggairakan.

Namun sekarang, keroncong lasem semakin tersisih oleh zaman. Mundur perlahan namun pasti, alunan keroncong telah tergantikan oleh musik lain yang berseberangan dengan detak jantung seni orang lasem yang telah berurat dan berakar. Dan yang perlu dihawatirkan, jika keroncong lasem telah berfungsi membangun tatalaku rukun dengan beragam misi kemanusian itu, dengan hadirnya musik lain, bukan tidak mungkin perlahan akan hilang dari permukaan.

Walaupun mulai dilupakan, ternyata masih ada satu grup keroncong lasem yang masih eksis hingga sekarang. Kita patut memberi apresiasi yang besar, karena masih ada pelestari keroncong di lasem. Grup keroncong tersebut adalah “Gema Irama” yang ada di desa Gedongmulyo, Lasem.

Keroncong yang telah tutur sejarah lasem. Para pemainnya juga tidak pernah belajar musik secara khusus. Dengan modal ketajaman filling para pemain, hiburan rakyat ini sering menggema disudut rumah yang terletak di desa Gedungmulyo Lasem ini.


Mas Danang, mas Yoyok, mas Yoto sedang menghibur warga dengan grup keroncong Gema Irama Lasem (Doc. Foto Rumah Baca Pamotan, 2014)
Grup keroncong Gema Irama ini merupakan satu-satunya keroncong di kabupaten Rembang yang masih tersisa. Mereka terdiri belasan personel aktif. Mereka diantaranya adalah mas Ali yang pegang orgen, mas Dirman pegang selo, mas Yoto pegang cuk/ ukulele, mas Anwar pegang cak, mas Pangat pegang cak/cang, mas Heru pegang bas, mas Danang pemegang biola, serta mbak Yayuk, mbak Wiwik, mbak Diyah, mas Ari, dan mas Yoyok yang selalu aktif sebagai penyanyi keroncong lasem ini.

Personel grup keroncong ini mengaku prihatin karena saat ini sangat minim generasi muda yang mau meneruskan serta melestarikan musik keroncong. Banyak yang cinta bermain musik, namun cuma sedikit yang mencintai keroncong. “Kami sendiri sering mengajak yang muda-muda. Tapi ya itu, rumongso sulit, ndak cocok, padahal belum mencoba masuk irama musik keroncong secara mendalam”, tandas mas Danang dengan keluh kesahnya.

Kegelisan mereka bukanlah terletak pada sepinya order keroncong Gema Irama. Para personelnya mengaku tidak mementingkan berapa upah yang diberikan saat manggung. Mereka gelisah karena musik keroncong semakin sepi penikmat dari kalangan anak muda. Sesekali mereka pentas saat ada acara keluarga para personelnya. Sesekali mereka juga diundang pada acara sosial di statiun radio, kegiatan di polsek, dan baru-baru ini juga pentas di Komunitas Rumah Baca Pamotan saat peringatan hari pahlawan.

Walaupun semakin ditinggalkan, mereka tetap semangat latihan musik. Dua kali dalam seminggu, mereka latihan di rumahnya mas Ali, salah seorang pimpinan keroncong Gema Irama. Selain memperdalam rasa dalam syair dan irama lagu keroncong, campursari, hingga dangdut, mereka juga selalu mempelajari pola irama lagu-lagu yang sedang ngetren saat ini untuk dikroncongkan. Tujuannya untuk menarik perhatian anak-anak muda agar cinta dengan alunan musik keroncong. Bahkan tidak hanya itu, dengan kreatif mereka telah menggarap syair keroncong yang didalamnya memuat sejarah lasem. Sebuah langkah baru dalam menstranformasikan nilai-nilai sejarah lasem yang dituangkan dalam lagu keroncongnya.

“Ada lagu ciptaan sendiri, cuma belum rekaman. Lagu berisi tentang kota lasem dan kota budaya. Kemarin baru saja kami garap dengan stail orgen. Lagu ini berkenaan dengan cinta dua negeri antara Campa dan Jawa, antara Binangti dan Pangeran Badranala. Lagu ini menggambarkan cerita pernikahan antara bangsawan Jawa dengan putri campa, sebagai bentuk akulturasi budaya lewat perkawinan”, tandas Mas Danang, pelestari keroncong lasem yang jatuh cinta dengan biolanya ini.

“Lagu ini juga menampilkan apa yang ada di Lasem, selain sejarahnya juga yang lainnya. Menurut kami, ada empat tokoh perang lasem sebagai mutiara yang sudah hilang, yang sekarang harusnya menjadi teladan masyarakat Lasem”, imbuhnya.

Sikap para personel Gema Irama yang ingin melestarikan keroncong lasem ini ternyata tidak lepas dari sejarah keroncong di Lasem itu sendiri. Apa yang dilakukannya sekarang merupakan ajaran kemanusiaan yang pernah diajarkan oleh para pendahulunya. “Gema irama itu generasi keroncong kedua setelah group keroncong Timbul Nada. Kami belajar dari Pak Selamet Wijawa dan beliau-beliau yang sekarang sudah kapundut semua. Dulu kami hanya ikut beliau-beliau. Kita nimbrung dan terus latihan”, ujar mas Ali, saat menceritakan sejarah keroncong di Lasem.

Grup keroncong lasem ternyata diperankan oleh para tokoh masyarakat Lasem. Dengan talenta seninya, para kaum terdidik lasem, sejarawan, guru, hingga pegawai, telah tampil dalam garda depan keroncong lasem. “Seingat saya Timbul Nada ada pak Selamet Wijaya yang pegang biola, pak Sarwan pegang flood/ suling, pak Sakban pegang selo, pak Dirman pegang cuk, pak Subari pegang cang, dan pak Setiaji pegang melodi. Beliau-beliau ini sudah meninggal semuanya. Melalui merekalah kami (keroncong Gema Irama) sekarang ada”, pungkas Ali.

Hal senada juga dituturkan Matoya, tentang keberadaan group keroncong Timbul Nada saat itu. “Setiap grup Timbul Nada manggung, Bapak Selamet Wijaya selalu pegang biola. Beliau sangat suka dengan lagu mawar biru karena penyanyinya adalah instrinya sendiri, Bu Selamet Wijaya”, ungkapnya.

“Saya menonton keroncong lasem sudah ratusan kali. Pak Selamet dengan para pensiunan PWRI selalu bermain keroncong di hari Selasa malam. Mulai dari Kaliori, Rembang, Sluke, Pamotan, Gunem, dan Lasem sendiri, pak Selamet berkeroncong sembari berbincang perihal masalah-masalah pensiunan. Pokoknya selalu main saat tanggapan manten”, tambah Matoya, Pegiat Paguyuban Bhre Lasem.

Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari keroncong lasem adalah keroncong itu sebagai alat untuk misi kemanusiaan, bukan sebagai tujuan mencari upah. Misi kemanusiaan itu dapat kita lihat adanya kegiatan pendampingan para pensiunan PWRI yang rawan dengan ketidakpastian  hidup tenang diusia lanjutnya yang diperankan grup keroncong Timbul Nada di era 70-an. Melalui keroncong, (almarhum) Selamet Wijaya dan kawan-kawan berkeliling mulai Kaliori hingga Gunem, menghibur para lansia. Disela-sela menghibur inilah, keroncong lasem telah memerankan diri sebagai konselor para lansia.

Keunikan keroncong lasem ini tidak berhenti begitu saja. Melalui keroncong, misi kemanusiaan ini kemudian dilanjutkan grup keroncong Gema Irama di era 2000-an. Keroncong generasi kedua ini semakin kreatif dalam mengemas pentasnya. Mereka tidak hanya menghibur para lansia dengan lagu keroncong, campursari, dan dangdut saja, lagu-lagu pop juga mereka keroncongkan.  Dan yang menarik, mereka membuat syair keroncong yang sarat dengan sejarah lasem. Sebuah proses pencerahan sosial yang sangat halus dilakukan.

Tentu ini semua tidak pekerjaan mudah kawan. Karena mereka telah mampu mentransformasikan misi kemanusiaan dalam pentas seni dalam mewujudkan masyarakat yang pluralis dan toleran. Bukankah demikian?